Tekad Membuka Sanggar Kreatifitas

0

Ingin turut mencerdaskan kehidupan anak bangsa, perempuan kelahiran Tangerang, 18 Mei 1975 ini akhirnya memutuskan berhenti menjadi pekerja kantoran di sebuah perusahaan besar. Ia memilih untuk menjadi pengajar setelah tujuh tahun lamanya bekerja di perusahaan itu.

Perempuan itu bernama, Elizabeth Lili. Ia mendirikan Sanggar Kreativitas Anak Indonesia di kota Medan tahun 2011 silam. Sebelumnya ia juga mendirikan I Home Schooling tahun 2003, dan Sekolah Alam Medan tahun 2009 yang khusus menampung untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Lili, sapaan akrab Elizabeth Lili ini menuturkan, setelah menamatkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara tahun 1993 yang lalu ia bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar di kota Medan. Dan, setiap minggunya ia menjadi relawan pengajar di perkampungan-perkampungan. Waktu itu, Lili khusus mengajarkan kreatifitas untuk anak-anak.

“Waktu itu, saya dimintai oleh Gereja tempat saya beribadah untuk mengajar di perkampungan setiap weekend. Selama mengajar di perkampungan, kok saya merasa enak ya mengajar itu. Puas rasanya, setelah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada anak-anak,” kata anak pertama dari dua bersaudara ini.

Lili akhirnya memutuskan untuk mendirikan sekolah I Home Schooling tahun 2003 setelah tujuh tahun bekerja di perusahaan swasta. Awalnya, di I Home Schooling, ia hanya menerima anak-anak dengak kebutuhan khusus. Lalu, tahun 2009 ia mendirikan lagi Sekolah Alam. Dari situlah, akhirnya sekolahnya tidak hanya menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus saja, tapi juga anak normal lainnya.

“Saya pikir, tidak hanya anak-anak yang berkebutuhan khusus yang perlu diajarkan kreatifitas, tapi anak normal juga perlu. Karena, pentingnya kreatifitas ini untuk mengasah dan memaksimalkan otak kanan dan otak kiri yang selama ini tidak didapatkan di sekolah. Bahkan, banyak anak yang berprestasi, tapi tidak punya skill. Itulah yang membuat saya termotivasi untuk mendirikan I Home Schooling dan Sekolah Alam ini,” ujar ibu satu anak ini.

Setelah itu, tahun 2011 Lili kembali mendirikan tempat anak-anak belajar kreatifitas yakni Sanggar Kreatifitas Anak Indonesia di Medan. Di tempat itu, bahkan tidak hanya anak-anak saja yang bisa belajar, tapi juga orang dewasa. Banyak kreatifitas yang bisa didapatkan di tempat itu. Misalnya, belajar kerajinan daur ulang sampah, origami, memasak, menyulam dan lainnya. Di sanggar itu, Lili juga terlibat langsung mengajarkan kreatifitas kepada anak-anak.

“Walaupun saya sudah merekrut pengajar lain, namun saya merasa punya kewajiban untuk ikut mengajarkan,” kata Lili, yang mengaku sudah sejak SMP belajar kerajinan origami secara otodidak itu.

Untuk mengetahui perkembangan terbaru tentang beraneka ragam kreatifitas, Lili sengaja mengunjungi event Inna Craft di Jakarta setiap tahunnya. Karena, pada event itu terdapat pameran handycraft terbesar dari seluruh kota di Indonesia. Dari situlah, ia belajar banyak tentang perkembangan handycraft.

“Selain mengunjungi event Inna Craft, saya dan penggiat kerajinan origami dan daur ulang sampah di Medan juga sering melakukan pertemuan setiap bulannya untuk bertukar pikiran dan saling belajar. Ya, sebagai pengajar dan sekaligus pemilik saya harus tahu perkembangan baru,” ujar Lili yang mengaku, dibantu oleh teman dan keluarga saat mendirikan sekolahnya.

Tidak hanya menerima kunjungan saja, namun untuk memajukan sekolah yang ia dirikan, ia harus melakukan jemput bola ke sekolah-sekolah, komunitas dan mal-mal. Atas usahanya menjemput bola, saat ini banyak sekolah, komunitas dan mal yang mengajak bekerjasama untuk meningkatkan kreatifitas anak.

“Di Medan ini banyak sanggar, tapi tidak berani jemput bola. Kami tidak, untuk maju ya harus jemput bola. Kalau tidak ya, sekolah yang didirikan tidak ada kemajuannya,” ujar Lili yang mematok biaya antara Rp30.000 sampai Rp90.000 setiap sekali datang ke Sanggar Kreatifitas Anak Indonesia yang terletak di ruko belakang Plaza Medan Fair ini. (E/jp)

Komentar Via Facebook

Share.

Leave A Reply