Nurainun, Kisah Seorang Mestro Lagu Melayu

0

Usia penyanyi legendaris di kota Medan, Nurainun memang kini sudah uzur. Namun, soal suara jangan ditanya, masih merdu dan mampu memukau orang yang mendengarnya. Setidaknya, penampilannya di Open Stage Pekan Raya Sumut (PRSU) beberapa hari lalu bersama maestro biola asal Ibukota, Hendri Lamiri mampu membuat ratusan pengunjung berdecak kagum.
Gesekan biola Hendri Lamiri yang mengiringi Nurainun membawakan lagu-lagu Melayu seperti Keluhan Jiwa, Sang Rembulan mampu mendapatkan aplaus luar biasa dari seluruh pengunjung, termasuk Plt Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin. Perempuan kelahiran 1932 ini memang tetap eksis bermusik hingga lanjut usia, suaranya masih merdu dan mendayu, setiap lagu yang dinyanyikannya selalu berasal dari hati.
Ketika menyambangi kediaman perempuan bernama lengkap Nurainun binti Muhammad Siddik di Jalan Datuk Kabu, Medan Denai ini dirinya mengakui kalau kunci dari menyanyi lagu-lagu Melayu itu harus dilakukan dengan penghayatan. “Menyanyi itu memang harus dihayati, menyanyi dari hati,” ujar istri dari almarhum Ahmad Fuad ini.
Nurainun mengisahkan, awalnya dia tak pernah bermimpi menjadi seorang penyanyi legendaris yang banyak dikenal oleh orang lain. Dulu, Ainun, panggilan akrabnya sangat senang melihat penyanyi melayu, apalagi ketika kakaknya menikah dengan keluarga Istana Maimun sekitar tahun 1949.
“Awalnya saya hanya senang mendengarkan dan melihat orang menyanyikan lagu-lagu Melayu, saya belajar dari situ secara otodidak. Apalagi ketika kakak menikah dengan anak Sultan Sukma Murni, dari situlah saya semakin senang bernyanyi Melayu, ketika itu usia saya masih berkisar 17 tahun” kenang Ainun.
Karirnya di dunia musik dimulai ketika dirinya mengikuti Bintang Radio yang digelar di RRI tahun 1951. Bakat dan anugerah suara yang merdu dari Tuhan membuatnya meraih tujuh kali bintang Radio berturut-turut. Setelah itu, Ainun pun bergabung dalam grup musik Orkestra Sukma Murni yang kemudian digabung sama Orkestra Raudhatul Akmal menjadi nama (Sumra) Sukma Murni dan Raudhatul Akmal.
Sejak bergabung di Orkestra, debutnya di dunia musik semakin tersohor. Tidak hanya menyanyikan lagu orang lain seperti Keluhan Jiwa karya Nasir Nasution, Ainun juga mulai menciptakan lagu-lagu Melayu sendiri. Setidaknya ada 10 lagu ciptaannya yang popular di antaranya, Jangan Duduk Termenung, Bunga dalam Taman, juga Tak Putus Asa.
Ainun juga tak hanya bisa menyanyikan lagu Melayu, dia juga mampu menyanyikan lagu Arab, India dan lainnya. “Pernah waktu saya nyanyi, ada yang minta dinyanyikan lagu India, ketika itu saya tidak bisa dan saya malu. Sejak saat itu saya belajar banyak lagu, jadi kalau ada permintaan untuk menyanyikan lagu selain Melayu saya tetap bisa menyanyikannya,” ungkap Ainun.
Meski namanya cukup dikenal sebagai penyanyi legendaris di Medan, namun berbeda dengan kehidupannya yang sangat sederhana. Nurainun kini hanya mendiami sebuah rumah panggung di kawasan Medan Denai berdampingan dengan rumah anaknya. “Sejak mulai menyanyi, saya tak pernah memikirkan berapa yang diberi orang, saya hanya akan selalu berupaya agar bisa tampil sebaik mungkin,” ujar ibu dari tujuh orang anak ini.
Begitu juga ketika dirinya sejak lima tahun lalu tak lagi mendapatkan royalti. Sudah lima tahun ini tidak ada yang memberinya royalti, tapi ia tetap senang. Baginya, jika masih ada panggilan nyanyi, maka dengan senang hati akan bernyanyi dan memberikan penampilan yang terbaik.
“Saya selalu ingat nasihat orangtua saya bahwa saya tidak boleh sombong. Alhamdulillah, saya masih bisa hidup berkecukupan,” kata Ainun.
Memilih jalan hidup yang sederhana memang sudah dimulainya sejak menikah dengan sang suami tahun 1956. Suaminya, Almarhum Ahmad Fuad hanya masyarakat biasa yang akhirnya menjadi pemain akordion di orchestra tempat Ainun bernaung dan belakangan menjadi pemimpin orchestra tersebut.
“Saat memilih suami dulu saya sempat dicemooh orang-orang kenapa mau sama dia (suaminya), padahal kata mereka saya cukup dikenal. Tapi, bagi saya yang penting dia lelaki yang baik dan tak pernah lupa sama Allah, ibadahnya itu yang saya pandang,” kenangnya.
Hingga ketika dirinya diundang bernyanyi ke luar negeri, Ainun tetap didampingi suami seperti ke Malaysia, Singapura juga Thailand. “Honor menyanyi saya juga pernah ditipu orang, tapi selalu suami saya mengatakan, tak perlu diributkan kalau itu yang kita terima berarti segitulah rezeki yang diberiNYA, makanya hingga sekarang saya tidak pernah mempersoalkan kalau pun lagu-lagu saya dibajak orang,” ujar Ainun yang sempat mengajar anak-anak mengaji untuk menopang kehidupannya.
Kini Ainun lebih banyak beribadah dan mengaji, meski sesekali masih sering bernyanyi untuk mengisi berbagai acara. Saat ini dia juga sedang melakukan rekaman lagu. “Alhamdulillah, hingga tua begini, masih ada yang mau memanggil saya untuk bernyanyi. Ini pun ada yang mengajak saya rekaman lagu, mudah-mudahan dengan apa yang saya lalukan ini lagu melayu tidak pernah punah,” harapnya. (jpA)

Komentar Via Facebook

Share.

Leave A Reply