Menjadi Mata Jurnalis Konflik

0

Oleh Diana Saragih*

Buku ini saya pinjam dari seorang teman yang bekerja di sebuah LSM di Medan. Ia mengatakan buku ini menarik karena menceritakan kisah jurnalis perempuan barat meliput tingginya kasus bunuh diri perempuan muda Afganistan karena kawin paksa. Dan saya setuju dengannya. Sudah hampir 2 tahun saya tidak ‘benar-benar’ membaca buku, apapun itu genre-nya. Saya hanya membaca jurnal, koran, majalah, yang sifatnya informasi teknis yang menunjang kegiatan saya di dunia jurnalistik dan pemerintahan. Membaca buku Perempuan-Perempuan Tak Berwajah (The End of Manners) karya Francesca Marciano ini seperti membuka minat saya akan nikmatnya ‘tenggelam cantik’ dalam kisah yang ditawarkan sebuah buku. Tutur bahasa dan deskripsinya sangat detil. Saya seperti menjadi si tokoh utama, seorang fotografer perempuan bernama Maria yang dipekerjakan oleh agensi berita untuk meliput di Afganistan bersama seorang jurnalis perempuan juga.

Francesca_marciano_77

Francesca Marciano

Yang sangat menarik dari buku ini bukanlah menu utama konflik misi kedatangan kedua perempuan barat ini ke Afganistan, tetapi betapa sangat informatif seorang Francesca menuturkan tahap demi tahap persiapan yang harus dilalui oleh seorang jurnalis baik tulis maupun foto untuk meliput di kawasan konflik. Seperti diketahui, pasca perang Taliban di Afganistan, kondisi negara itu masih dicekam oleh sejumlah teror dan masalah rekonstruksi. Seorang jurnalis yang akan ditugaskan ke daerah konflik harus memiliki lisensi atau semacam surat ijin dari lembaga yang berwenang. Lisensi ini dikeluarkan setelah ia memperoleh kelas persiapan bertahan (survive) di daerah konflik. Program ini berbiaya mahal dan  ditanggung oleh agensi yang menaungi si jurnalis.

Pengetahuan ini membawa saya pada bagaimana kesiapan perusahaan media, katakanlah di Medan, untuk memboboti para jurnalisnya untuk meliput. Saya teringat kejadian teror bom di Sarinah Jakarta dua minggu lalu. Betapa kondisi horor itu tidak memiliki batasan yang tegas dari aparat bagi warga maupun jurnalis untuk mendekat dan mengambil gambar. Foto-foto yang beredar tergolong berani, apakah para jurnalis itu memiliki kemampuan dasar survive dalam kawasan konflik seperti itu, tidak hanya mengandalkan insting jurnalis saja? Saya yakin sejumlah media internasional pasti akan membayar mahal foto-foto bagus mereka, karena itu para jurnalis foto sering bertindak ‘nekat’.

CM0d2UfUwAE4kvX.jpg largeNamun di buku ini, si tokoh utama yakni jurnalis foto Maria, justru kehilangan momen memotret objek yang menjadi tujuan penugasannya di Afganistan. Adalah pamali bagi perempuan Afganistan jika dipotret dan dipajang di sebuah media, apalagi topiknya mengenai percobaan bunuh diri karena kawin paksa. Isu perempuan di sana masih sangat sensitif dan posisi tawar perempuan masih sangat rendah. Sebagai sebuah karya tulis fiksi, sebenarnya pembaca novel ini menemui anti klimaks. Sebuah tindakan moral si tokoh utama menjadi kekuatan sekaligus kelemahan cerita ini, tergantung perspektif pembaca. Saya mencoba memahami keduanya dari sudut pandang saya.

Hilangnya momen memotret itu bukanlah hal yang tidak bisa dihindari. Apalagi bagi fotografer yang memiliki portofolio yang sangat diakui secara internasional. Tetapi, dalam buku ini karakter Maria sangat tertekan dengan masa lalunya mendapat penghargaan karena fotonya yang bernas tentang seorang anak perempuan yang ikut dalam prostitusi di Thailand. Baginya penghargaan itu bukan hal baik yang ingin disimpan selamanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa nurani dan logika jurnalistik fotonya bergumul saat mendapat kesempatan memotret para perempuan muda Afganistan korban kawin paksa. Dan momen singkat itu terhapus seiring membekunya logika kamera di matanya.

Maria tidak membawa foto-foto mereka pulang. Namun pembaca buku ini tertegun sejenak mengikuti kalimat demi kalimat, apa yang disaksikan dan dirasakan oleh Maria di saat yang bersamaan. Tidak semua proyeksi berita atau foto berhasil dibawa ke meja redaksi. Bukan karena para jurnalis tidak berhasil berhadapan dengan objek atau situasinya. Terkadang, proses perjalanan mendapat berita itu yang justru menjadi pengalaman paling berharga bagi seorang jurnalis. Apakah pengalaman itu menguatkannya, ataukah melemahkan jiwa jurnalisnya, masing-masing punya pendapat sendiri.

 

*Pemimpin Redaksi  www.jurnalisperempuan.com dan majalah wisata Dunia Melancong, tinggal di Medan.

Komentar Via Facebook

Share.

Leave A Reply