Kopi untuk Kehidupan

0

Specialty coffee. Terminologi ini pertama kali dicetuskan oleh seorang sepuh kopi ternama, Erna Knutsen pada tahun 1974 . Istilah ini terinspirasi ketika lidahnya pertama kali menyesap kopi Mandailing yang memiliki sensasi rasa coklat tersebut.

Kopi Mandailing. Penamaan kopi ini merujuk pada wilayah dimana kopi tersebut ditanam. Berdasarkan buku “All About Coffee” karya William Ukers, kopi Mandailing sempat menduduki peringkat terbaik dunia. Memiliki harga tertinggi di pasar internasional.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kolonial Belanda menduduki bumi gordang sembilan tersebut pada tahun 1699. Wilayah yang pertama kali ditanami bibit kopi arabika yang dibawa dari Pulau Jawa adalah Pakantan. Berada di ketinggian 1.200 mdpl, Pakantan mampu menghasilkan biji kopi berkualitas sempurna.

Ketika itu bumi Mandailing santer terdengar ke mancanegara. Namun waktu berlalu. Zaman pun berubah. Nama besar kopi Mandailing kian meredup. Kopi Mandailing kalah bersaing dengan kopi dari daerah lainnya seperti Gayo dan Torajo.

Namun pada tahun 2013, kopi Mandailing mulai naik daun lagi. Para petani kopi kembali bergairah menanami lahan mereka dengan tanaman kopi. Ekonomi masyarakat pun turut terangkat meskipun harga kopi mengalami pasang surut.

“Tahun 2013 itu harga kopi tidak menentu. Berkisar Rp 15.000 /kg. Tetapi untuk menopang ekonomi keluarga, para ibu – ibu masih terus bertahan menanami lahan mereka dengan tanaman kopi. Di sini rata – rata rumah tangga punya 1 hektar lahan kopi. Dan itu yang berladang ibu – ibu,” ujar Putri Damanik, warga Huta Godang, Kecamatan Ulupungkut, Kabupaten Mandailing Natal, Senin (14/11/2016)

Putri Damanik yang kerap dipanggil Erni tersebut merupakan satu dari sekian banyak ibu rumah tangga yang memiliki dan mengurus lading kopi mereka sendiri. Ia sempat menjadi tenaga ahli pembibitan tanaman kopi di perkebunan milik swasta.
“Sekarang harga kopi sudah normal. Berkisar antara Rp 21.000 – Rp 22.000 / kg,” lanjutnya.

Sebagai seorang perempuan yang sudah berkecimpung lama dalam perkebunan kopi sejak tahun 1998, Erni paham betul bagaimana fungsi kopi tersebut di samping fungsi ekonominya. Tanaman kopi memiliki peranan penting dalam konservasi lingkungan.

Sesungguhnya masyarakat Mandailing memiliki kearifan lokal dalam menjaga hutan yang disebut sebagai hutan rarangan. Jauh sebelum pemerintah menetapkan berbagai kebijakan tentang kawasan hutang yang wajib dilindungi dalam undang – undang, nenek moyang bangsa Mandailing sudah menetapkan hukum adat bagi keturunannya.

Namun perkembangan zaman membuat kearifan tersebut kian goyah. Masyarakat itdak hanya dihadapkan pada kebutuhan hidup yang kian tinggi tetapi juga aktivitas para perambah hutan “kelas kakap”. Sekalipun undang – undang telah mengatur secara tegas mengenai perlindungan hutan, penebangan hutan terus saja melenggang.

Masyarakat Benteng Pertahanan Utama

Itulah mengapa, menjaga hutan tidak hanya dapat dilakukan melalui himbauan – himbauan kepada masyarakat yang harus terus mengisi perut tanpa adanya solusi. Pelestarian hutan adalah tugas berbagai kalangan dan masyarakat adalah benteng pertahanan utamanya.

“Kopi ini kan tanaman konservasi. Berbeda seperti tanaman keras lainnya, tanaman kopi harus hidup berdampingan dengan tanaman lainnya. Jadi kawasan hutan yang telah rusak, dapat dikembalikan dengan menanamkan kopi yang juga dapat memberi manfaat bagi ekonomi masyarakat,” ujar Rasyid Assaf Dongoran, Direktur Eksekutif Sumatera Rainforest Institute (SRI) beberapa waktu silam.

SRI telah memulai program pemberdayaan petani kopi di bumi Mandailing sejak tahun 2015. Selain menekankan fungsi ekonomi dari tanaman kopi, SRI juga terus memberikan pemahaman bagi masyarakat bahwa fungsi konervasi tanaman tersebut mampu menjaga alam tempat mereka hidup.

Selain itu SRI tidak hanya sekedar memberikan bantuan bibit dan edukasi budidaya tanaman kopi, SRI juga terus mendampingi petani hingga tanaman berbuah dan panen.

“Jadi selama ini petani kalau sudah tanam ya dibiarkan saja ketika berbuah dipanen. Disini kita terus mendampingi petani bagaimana merawat tanaman kopi mulai dari bibit hingga pasca panen. Sebab kualitas biji kopi itu juga tergantung bagaimana cara merawat dan memanennya. Kalau biji kopinya bagus tentu harganya juga menjadi tinggi,” lanjutnya.

Mendesak Sertifikasi Indikasi Geografis

Meskipun petani kopi Mandailing kembali bergairah, namun mereka masih menghadapi berbagai tantangan salah satunya adalah pemasaran. Di pasaran banyak sekali kita temui produsen kopi yang melabelkan naman Mandailing dalam kemasan kopinya. Namun benarkah itu berasal dari Mandaling?

Angka penjualan atas nama kopi Mandailing di pasaran saat ini minimal mencapai target 120 ribu ton dari yang ditargetkan oleh Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) yang mampu meraih 900 ribu – 1,2 juta ton per tahun.

“Jika dihitung dengan harga penjualan petani rata – rata Rp 10.000 / kg maka didapatkan angka Rp 1,2 T per tahun itu harusnya mengalir ke petani. Sementara rata – rata produksi kopi di Kabupaten Mandailing Natal baru sekitar 300 ton / tahun,” jelas Rasyid.

Hal ini tentu menjadi indikasi bahwa nama Mandailing begitu menjual di luar negeri. Lantas patutkah mencatut nama Mandailing sementara petaninya sendiri masih hidup dalam keterbatasan? Dan adilkah kita sebagai konsumen ditipu habis – habisan oleh produsen yang melabelkan nama Mandailing atas kopi antah – berantah?

Persoalan yang tengah terjadi saat ini adalah kopi Mandaling yang ditanam oleh petani di atas tanah Mandailing belum mendapatkan lisensi atau sertifikasi indikasi geografis seperti kopi dari Gayo, Toraja, Kintamani dan daerah lainnya.

“Jadi kita terus mendesak agar pemerintah segera menerbitkan SIG untuk kopi Mandailing supaya namanya tidak dipergunakan secara sembarang. Dengan adanya SIG tentu akan memperbesar peluang ekspor untuk kopi asli yang dihasilkan oleh petani di bumi gordang Sembilan ini,” tandas Rasyid.

Kopi tidak hanya sekedar rasa, uang atau pun gaya hidup. Kopi memberikan kehidupan bagi semesta. Baik alam maupun manusia yang hidup di dalamnya. (Kumari/jp)

Komentar Via Facebook

Share.

Leave A Reply