Candu-candu di Sekitar Kita

0

Ini tentu saja akan membicarakan tentang narkoba dan zat adiktif lainnya. Saya menekankan pada judul tentang candu di sekitar kita, karena memang saya dan mungkin banyak teman lainnya yang menemukan kasus-kasus kecanduan narkoba di dekat kita, pada teman, tetangga atau bahkan anggota keluarga kita sendiri.

Kita simpan dulu bagaimana massifnya narkoba ini disuplai oleh bandar dan produsen dalam dan luar negeri. Saya ingin ikut membeberkan betapa mengerikan dan menyedihkan jika kita melihat mereka yang sudah dikuasai oleh narkoba. Meskipun di negeri ini narkoba dan zat adiktif lainnya ilegal, namun peredarannya bak kacang rebus. Merata, cenderung sembunyi-sembunyi, mahal, dan pasti merusak. Mahal ini di sini tidak hanya persoalan angka uang, namun masa hidup yang terenggut, apalagi jika terkait pecandu narkoba yang berusia muda. Masa muda adalah masa membangun, baik jiwa maupun raga. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika seorang pemuda menjadi pecandu narkoba, ia tidak saja akan kehilangan masa mudanya yang harusnya produktif. Namun ia bisa jadi beban bagi orang lain bahkan negara ini. Ibu rela menjual anaknya demi membeli narkoba, begal yang tega menghabisi korbannya, anak yang tega membunuh orangtuanya demi narkoba, dan sederet kisah tragis lainnya, selain mati overdosis atau ditembak mati polisi. Kita sudah sering mendengar hal-hal semacam ini, baik dari media massa maupun dari obrolan.

Saya punya kisah sendiri. Sepulang dari kebaktian di gereja tadi malam, sekira pukul 9, saya menumpang angkot dari Padang Bulan ke kawasan Pulo Brayan. Di daerah Jalan Karya, seorang pemuda berusia 18-19 tahun naik dengan ceria ke angkot kami. Saya kira dia gembira karena memang di jam begini, angkot sudah jarang sekali beroperasi. Jadi mungkin dia lega ada angkot yang bisa mengantarnya pulang ke daerah Kayu Putih, Mabar. Tak lama, dia mengeluarkan bungkusan plastik putih beraroma lem. Ya, pemuda berbaju hitam dan bercelana jins ini nge-lem di depan kami semua. Awalnya dia malu-malu, dan permisi karena semua mata kami memandang ke arahnya.

Melihat tidak ada yang protes dan kami juga enggan berkomentar, ia semakin berani dan menghisap dalam-dalam lem itu. Baunya sangat menyeruak, terutama karena dia tepat berada di samping saya. Awalnya dari balik baju, sesekali, kemudian lama-kelamaan dia mengeluarkan plastik itu dan menghisapnya terang-terangan dan terus-menerus. Dia mulai mengoceh, tertawa dan mencoba bicara kepada saya dengan topik yang tidak jelas. Saya diam saja dan menatapnya sedih. Masih muda, lumayan ganteng, tapi otaknya gila.

Saya teringat beberapa junior di kampus saya dulu yang mendebat saya habis-habisan tentang ganja. Mereka ingin ganja dilegalkan di Indonesia. Saya kaget dengan kebodohan mereka. Orang gila mana yang telah menularkan pengetahuan sesat tentang ganja itu, sehingga mereka ingin melegalkan barang terlarang itu di sini. Atau saya yang selama ini salah kaprah dengan keberadaan ganja di bumi Indonesia. Sebab, setahu saya, ada memang gerakan melegalkan ganja sebagai bahan baku obat dalam dunia farmasi, tapi bukan untuk dikonsumsi bebas.
Meski begitu saya jadi penasaran dan mencari tahu lagi tentang narkoba ini. Ternyata pengetahuan saya yang sedikit itu masih benar adanya. Tidak terbantahkan bahwa zat adiktif tidak saja menimbulkan resistensi yang membuat tubuh menuntut dosis yang lebih tinggi atau intensitas yang rutin atau bahkan semakin tinggi pula, namun juga dapat merusak sel-sel otak. Nah, kerusakan sel otak ini yang sangat sulit diobati. Tidak saja butuh kemauan untuk keluar dari dunia narkoba, tapi juga pengobatan yang luar biasa menyakitkan sehingga butuh biaya dan kesabaran yang tinggi.

Si pemuda di angkot tadi adalah contoh jelas betapa rentannya pemuda menjadi pecandu narkoba. Seorang bapak berusia 50-an tahun mencoba bicara baik-baik padanya. Bertanya dari mana dia, mau kemana tujuannya, dan sedikit menasehati untuk berhenti menggunakan itu. “Kalau sudah kena narkoba hanya ada dua gendangnya, hepi atau mati. Biaya hepi ini yang sangat mahal, pikiran sudah tidak pada tempatnya lagi, dan itu bisa seumur hidup,” ujar si Bapak. Si pemuda diam sesaat, lalu tiba-tiba menghirup lagi lem-nya dalam-dalam. Kemudian, dia menciumi tangan si Bapak. Tapi setelah itu dia menghirup lem lagi. Lalu tertawa terus bicara melantur. Saya cenderung merasa sedih melihatnya ketimbang takut. Anak ini sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Sesaat mungkin dia mengerti, namun nalarnya tidak lagi mampu menyimpan dan menginternalisasi kata-kata orang lain. Seperti kata si Bapak, pikirannya sudah tidak pada tempatnya lagi.

Perjalanan masih jauh, penumpang yang tertinggal hanya kami berdua. Saya akhirnya memutuskan untuk turun di tengah jalan. Saya tidak kuat menghadapi kegilaan si Pemuda ini nantinya. Siapa yang tahu apa yang sanggup dilakukannya nanti. Begitu saya turun, si sopir angkot justru menyuruh si Pemuda itu untuk turun juga. Akhirnya kami berdua menunggu angkutan berikutnya. Saya pun berjalan menjauhinya ke arah warung yang cukup ramai. Saat dia mengikuti dan bertingkah seperti orang kumat sambil menenteng plastik lem-nya, orang-orang di warung mengusirnya. Dia pun lari tunggang langgang entah ke mana.

Perasaan saya masih bercampur baur. Apakah saya harus perduli dan memikirkan orang-orang dekat saya yang kecanduan narkoba, mencoba membantu mereka meninggalkan barang berbahaya itu. Seperti si Pemuda tadi. Pembiaran dari orang-orang di sekitarnya membuat ia semakin berani dan terang-terangan nge-lem. Keluarganya mungkin sudah angkat tangan dan membiarkannya hidup semaunya saja seperti itu. Atau saya menjauhinya saja. Cuek dan tidak perlu merepotkan diri karena toh mereka tidak bisa tertolong lagi dengan kemampuan saya yang minim ini? Tidak semua orang mempunyai kapasitas seorang konselor yang mampu membantu para pecandu menyembuhkan diri. Membebaskan diri dari cengkraman candu. Saya memikirkannya sepanjang perjalanan ke rumah. Akhirnya saya berada dalam satu titik kesimpulan. Mungkin berdoa pada Tuhan bisa membantu mereka, batin saya pasrah. (Diana Saragih)

Komentar Via Facebook

Share.

Leave A Reply