Belajar Kreatif dengan Origami

0

Berbagi kepada sesama tidak harus dengan materi. Memberikan ilmu yang kita miliki juga sangat berarti kepada orang di sekitar kita. Seperti yang dilakukan oleh perempuan kelahiran 14 April tahun 1968 silam ini, Nany Nurdin. Meskipun, ia disibukkan dengan kegiatan mendampingi suaminya Timbas Tarigan sebagai Wakil Walikota Binjai, namun ia tak berhenti berkarya. Hatinya terpanggil untuk menyebarkan ilmu yang dikuasainya, membuat kerajinan origami kepada masyarakat dan guru-guru PAUD dan TK di Medan.

Ditemui di sanggar Komunitas Rumah Origami “Mutiara Langit Biru” yang terletak di jalan Ringroad Gagak Hitam, Medan, Nany menuturkan, sejatinya ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Namun, karena hatinya merasa terpanggil ia mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang berarti untuk meningkatkan kualitas anak-anak di PAUD dengan belajar origami. Kegiatan itu dimulai saat ia mengajar di TK Islam Terpadu Al Hijrah, Medan tahun 1998 yang lalu.

“Untuk mengisi kekosongan di sela-sela pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, saya belajar origami. Lalu, saya mengajarkannya kepada guru-guru PAUD. Kenapa origami, karena saya ingin kualitas anak-anak di PAUD bisa meningkat dengan belajar origami. Belajar origami ini penting, salah satunya adalah menyeimbangkan otak kanan dan otak kirin anak,” tutur Nany.

Untuk memberikan keterampilan origami, Nany sendiri belajar secara otodidak dan menemukan manfaat dari kegiatannya ini. Selain menyenangkan, origami juga bisa melatih dan meningkatkan kreatifitas terutama bagi anak-anak. Ia lalu mulai memberi pelatihan origami kepada guru dari PAUD ke PAUD. Dengan harapan guru-guru yang mendapatkan pelatihan bisa mengajarkan lagi kepada anak-anak yang belajar di PAUD.

DSC04046 Image249

“Membuat origami ini modalnya tidak banyak. Hanya modal kertas. Biasanya, ibu-ibukan sering mengeluh bahan untuk membuatnya besar. Nah, kalau origami ini bahannya mudah didapat, harganya juga murah. Dengan modal Rp5.000 saja bisa mendapatkan kertas origami yang banyak. Jadi, nggak ada alasan lagi untuk tidak mau belajar,” ujarnya.

Sampai akhirnya, pada tahun 2004 ia mendirikan rumah origami di jalan Setia Budi, Medan. Tapi, karena masa kontraknya sudah habis sampai beberapa tahun sanggar ini sempat vakum. Maklum, sanggar ini berdiri swakelola tanpa dipungut biaya bagi yang ingin belajar. Saat itu ia juga disibukkan dengan kegiatan mendampingi suami yang kebetulan menjabat sebagai Wakil Wali Kota Binjai. “Jadi, kegiatan memberikan pelatihan origami agak berkurang,” sebut anak pertama dari lima bersuadara ini.

Setelah sempat beberapa tahun vakum, kerinduan memberikan pelatihan origami muncul lagi. Ia menyebarkan ilmu kerajinan origami di Binjai dan mendirikan sanggar origami yang diberi nama Origami Idaman Binjai. Tidak berhenti di situ, ia juga mendirikan kembali rumah origami di Medan yang diberi nama Mutiara Langit Biru di jalan Ringroad, Gagak Hitam, Medan.

“Kenapa saya beri nama Mutiara Langit Biru. Filosofinya, mutiara kalau di dasar laut kan tidak berharga apa-apa, tapi kalau sudah berada di permukaan akan berharga seperti langit biru. Seperti origami ini. Tadinya hanya kertas saja, tapi kalau sudah jadi, maka kelihatan indah,” kata alumni Fisip USU tahun 1993 ini.

Di rumah komunitas origami yang juga dijadikan warung tebu segar manis itulah, ia menampung siapa saja yang ingin belajar tentang kerajinan origami tanpa dibebani biaya apapun. Bahkan, ke depannya ia bercita-cita ingin mendirikan club origami khusus untuk anak-anak. Bukan hanya sekedar origami biasa, origami yang diajarkan kepada masyarakat dan guru-guru TK juga ternyata memiliki nilai jual. Sebagian masyarakat yang sudah diberi pelatihan kerajinan origami juga menjadikannya bisnis.

“Sebagian masyarakat yang saya ajari juga menjual hasil karyanya atau menerima orderan hiasan acara pernikahan atau acara tertentu dari hiasan origami,” katanya. (E/jp)

Komentar Via Facebook

Share.

Leave A Reply