Bayi-Bayi Yang Tersandera

0

Oleh : Khairiah Lubis

Siang hari di RSUP  H Adam Malik Medan. Ruang perinatalogi yang khusus merawat pasien anak  di ujung koridor, dipenuhi pasien. Ada enam orang anak terbaring lemah di atas enam tempat tidur yang berjajar.

Diantaranya adalah Y, bayi berusia  1, 4 tahun yang sedang tidur di dalam kain ayunan yang digantung di sisi tempat tidurnya.  Y  terlihat lemah. Dia sedang menderita diare. Dalam satu hari, bayi mungil itu bisa lebih dari 10 kali buang air besar (BAB). Sesekali mukanya terlihat ingin menangis.  Mungkin karena perutnya sakit. Badannya kurus. Beratnya hanya 6 kilogram.

Nenek Y, Suparmi, 58 tahun, terlihat  bingung. Dia mengaku tidak tahu harus berbuat apa, karena saat ini,  anak perempuannya, Yt, 35 tahun, yang merupakan ibu Y, juga sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Deliserdang di  Lubuk Pakam.

“Nenek tidak tahulah nak, mamaknya ini juga sedang sakit di rumah sakit Lubuk Pakam. Susah pikiranku,” katanya.

Suparmi bercerita, baru sekitar satu minggu ini mereka mengetahui bahwa Y  positif HIV. Awalnya karena Y sudah bolak-balik sakit sejak berusia  tujuh bulan. Pertama mereka mengira Y menderita palasik – sakit yang menurut orang awam karena pengaruh jin sehingga dibawa ke dukun. Lalu ketika Y terus-terusan batuk dan tubuhnya semakin kurus, dokter di rumah sakit di Deliserdang mengatakan Y menderita penyakit paru-paru.  Ada lebih kurang tiga kali Y harus keluar masuk rumah sakit. Hingga akhirnya, sekitar satu minggu lalu, klinik di Lubuk Pakam, tempat Y berobat menyarankan Yt dan M, ayah Y, untuk membawa anak mereka ke RSUP H A Malik.

“Di sini mereka bertiga diperiksa darahnya, ternyata cucuku Y, dan anakku YT, positif HIV.Sedangkan bapaknya, M, negatif.  Nenek sangat sedih, dunia rasanya mau runtuh,” kisah Suparmi.

Menurut Suparmi, anaknya Yt, begitu mengetahui bahwa ia positif HIV langsung mengalami penurunan kesehatan secara drastis. “Yt menderita diare, dan kulitnya gatal-gatal sampai berdarah,”kata Suparmi

Di rumah sakit ini, Suparmi bersama M, ayah Y, yang merupakan suami Yt. M terlihat sibuk membuatkan susu untuk Y, yang harus diberikannya setiap tiga jam sekali, dan oralit setiap Y selesai BAB.

M adalah seorang buruh pembuat batu bata di Lubuk Pakam. Dia baru menikah dengan Yt selama lebih kurang 2 tahun. Pada saat pemeriksaan darah seminggu yang lalu, M dinyatakan negatif HIV. M adalah suami kedua Yt. Suami pertama Yt sudah meninggal dunia tiga tahun lalu. Dulu sang suami bekerja di Kalimantan dan pulang dua hingga tiga bulan sekali. Pada tiga bulan terakhir sebelum meninggal dunia, suami Yt sakit namun tidak diketahui apa penyakitnya. Dari suami pertama ini, Yt sudah memiliki dua anak yang sudah duduk di kelas 3 SMA dan 6 SD.

“Anak-anak yang sudah besar belum diperiksa darahnya, karena ibu mereka sedang sakit, bagaimana ya dua anak itu, apakah mereka akan positif juga atau tidak? Mudah2an janganlah ya Allah,” ucap Suparmi.

Ibu Rumah Tangga Menjadi Korban

Selain Y, di ruang yang sama dengannya di perinatalogi RSUP H A Malik itu juga terdapat R, bayi berusia 1,6 tahun.  R ditemani neneknya di rumah sakit. Sama seperti Y, ibu dari R juga sedang dirawat di rumah sakit di Deliserdang. Dia juga baru mengetahui statusnya yang positif HIV setelah anaknya,R dirawat di rumah sakit.

Tingginya angka penularan HIV Aids pada ibu rumah tangga saat ini memang cukup memprihatinkan.  Ibu rumah tangga adalah seorang yang berisiko rendah menularkan HIV, namun dia adalah orang yang mempunyai angka tertinggi tertular HIV Aids. Malangnya, ibu rumah tangga sering tidak mengetahui bahwa dia sudah tertular HIV dari suaminya,  sehingga  hamil, lalu melahirkan anak yang positif HIV.

Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, pada bulan Januari 2015 melaporkan penularan HIV paling besar terjadi pada faktor risiko heteroseksual yaitu sekitar 5.073 orang. Pada perbandingan jumlah infeksi HIV pada laki-laki dan perempuan, laki-laki mengambil peresentase 54 persen. Laki-laki positif HIV inilah yang menularkan para istri mereka, yaitu ibu rumah tangga, sehingga angka kejadian HIV Aids pada ibu rumah tangga jauh lebih besar daripada penularan terhadap wanita pekerja seksual.

“Sebab pada wanita pekerja seksual, karena itu sudah profesinya, mereka menggunakan kondom untuk menjaga dirinya dari penularan HIV Aids. Sedangkan pada ibu rumah tangga, sering perempuan sungkan untuk meminta suami memakai kondom, dan tidak mengetahui jika suami mempunyai virus HIV, hingga akhirnya istri tertular HIV,” kata Ahmad Ramadhan, Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan Aids Sumatera Utara.

Sosialiasi tentang penularan HIV Aids, menurut Asih dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Sumut,  sebaiknya harus semakin giat dan meluas disampaikan kepada masyarakat, termasuk kepada ibu rumah tangga, orang-orang yang melakukan kegiatan yang berisiko terinfeksi HIV seperti suami yang suka berganti-ganti pasangan, agar tidak sampai tertular dan menulari orang lain.

“Para suami harus sadar bahwa prilaku seksual mereka yang buruk bisa memberikan penyakit untuk istri dan juga anak-anaknya, sehingga mereka bisa berhenti dan mengubah gaya hidup menjadi lebih baik. Demikian juga istri, harus mendapatkan edukasi untuk menjaga dirinya agar tidak terinfeksi HIV, misalnya dengan memakai kondom ketika berhubungan, dan mengetahui prilaku suami yang berisiko sehingga bisa mewaspadai penularan HIV terhadap dirinya,”  tutur Asih.

Ibu rumah tangga, menurut Asih, terlalu sering menjadi korban.  Tidak sampainya informasi tentang penularan HIV Aids kepada para ibu rumah tangga membuat mereka tidak tahu bahwa sewaktu-waktu HIV bisa menginfeksinya, jika mereka tidak awas, dan peka terhadap prilaku suami.

Andi Ilham Lubis, Project Officer Global Fund  mengatakan, saat ini pemerintah sedang menjalankan program yang digagas WHO yaitu PMTCT (Preventin of Mother to Child Transmission) Stategic Vision 2010-2015 yaitu atau  Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA).

“Prong atau pendekatan pertama yaitu pencegahan penularan HIV pada perempuan di usia produktif. Prong kedua pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif. Prong ketiga pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya. Prong ke empat, pemberian dukungan psikologis, sosial keperawatan kepada ibu HIV positif beserta anak dan keluarganya agar tetap dapat hidup sehat,” kata Andi.

Jika tanpa upaya pencegahan, penularan HIV dari ibu ke anak bisa 20%- 45%, sedangkan dengan program PPIA, penurunan bisa sekitar 2%-5%.

Untuk menjalankan program ini, menurut Andi, pemerintah sudah menambah jumlah layanan atau rumah sakit, juga puskesmas yang mempunyai VCT (voluntary counseling and testing). Beberapa rumah sakit di tingkat dua juga sudah mempunyai VCT, pasien bisa konsultasi dan mendapatkan obat, sehingga tidak harus jauh datang ke Medan.

“Tapi ini bukan hal gampang. Ada banyak masalah juga dalam penerapannya. SDM kita di VCT bukan orang khusus, tapi pegawai dari bidang lain yang diperbantukan sehingga tidak fokus, disamping persoalan adiministrasi dan birokrasi lainnya,” ungkap Andi.

Rahmat Kurniawan, Direktur Sumatera Peduli Kesehatan (SPKS), lembaga pendamping ODHA mengatakan, prong 1 dan prong 2 pada PMTCT selama ini tidak berjalan. Yang banyak ditangani adalah prong 3, yaitu ketika ibu sudah melahirkan anak dengan HIV Aids.

Menurut Rahmat, sebenarnya program  PMTCT dapat dilaksanakan  jika ada komitmen semua pihak yang bertanggungjawab untuk mengatasi permasalahan HIV Aids ini, yaitu jajaran kesehatan, dan juga Komisi Penanggulangan Aids. Selain itu, alokasi anggaran untuk pelaksanaan PMTCT ini juga harus cukup, agar program dapat berjalan. “Jasa tindakan untuk konseling di VCT rumah sakit itu tidak sesuai. Harusnya diperhatikan sehingga mereka bisa bekerja lebih profesional,” kata Rahmat.

Namun, apapun permasalahannya, program PMTCT sudah akan masuk masa evaluasi pada 2015 ini. Pertemuan Nasional HIV Aids ke V di Makassar pada Oktober 2015, semoga bisa membantu upaya percepatan penurunan penularan dari ibu ke anak ini. Agar tidak ada lagi bayi Y, atau R, yang lahir ke dunia, tersandera virus HIV. *

Komentar Via Facebook

Share.

Leave A Reply